Sejarah Rajutan (Knitting)


Terkesan lucu memang, sudah membahas tutorial belajar merajut knitting, mulai dari pengertian merajut, cara membuat simpul awal, CO, Knit, Purl, BO, hingga tusuk dasar pengurangan dan penambahan, tapi belum membahas sejarah rajutan.

Namanya juga perajut pemula, kalau sudah melihat benang dan jarum rajut, sudah nggak terpikir sama lainnya. Apalagi sedang semangat-semangatnya merajut. Di otak sudah bermunculan keinginan untuk membuat tas rajut, dompet, syal/scraf, topi rajut, pakaian, baju bayi rajut, dan rajutan lainnya. Padahal pas ngerajut belum tentu sesemangat awalnya, apalagi kalau pola merajutnya susah, iya kan?

Mumpung ingat, jadi kali ini kami akan membahas tentang sejarah merajut (knitting) yang kami lansir dari situs ulikbukucraft. Berikut ulasan singkat tentang sejarah merajut:

Sampai saat ini, sejarah rajutan masih menjadi pertanyaan besar terutama bagi kalangan pemerhati dan para riset dunia rajutan. Pasalnya, belum ada bukti jelas tentang siapa pelopor rajutan pertama kali, seni merajut dimulai tahun ke berapa, asal-muasal dari budaya negara mana, dan seterusnya.

Sepasang kaus kaki berbahan katun dengan motif rajutan tangan stockinette stitch merupakan karya rajutan yang pertama kali ditemukan pada tahun 1000 M di Mesir dengan motif kaligrafi yang sangat rumit. Diduga, teknik merajut yang kita pakai hingga saat ini memang berasal dari Timur Tengah. 

Teknik merajut permadani yang dilakukan oleh mayoritas penduduk Timur Tengah inilah yang menjadi daya tarik bagi negara Eropa, terutama Spanyol dan Italia. Setelah itu, menyebar hingga ke separuh belahan dunia. Sehingga ketrampilan merajut ini pun sudah menyebar hampir di seluruh negara Eropa.

Memang banyak periset dan pemerhati dunia rajutan berpendapat bahwa teknik rajut berasal dari Islam Timur Tengah. Bahkan Julie Theaker, salah satu periset sejarah rajutan menulis sebuah artikel yang berjudul History of Knitting yang dimuat di situs www.knitty.com mengungkapkan dengan tajam dan jelas bahwa merajut kemungkinan besar berasal dari Timur Tengah.

Pernyataan tersebut didukung oleh 2 alasan yang logis, yaitu:

1. Bahan rajutan kuno yang ditemukan berbahan benang yang berasal dari sutra dan katun. Jika budaya merajut memang berasal dari Eropa, seharusnya benang yang dipakai untuk merajut berasal dari wol.
2. Teknik merajut knitting hampir semua dimulai dari arah kanan ke kiri, bukan sebaliknya, dari kiri ke kanan (kidal). Jika dianalogikan dengan budaya menulis Arab masyarakat Timur Tengah, mereka memulai tulisan dari kanan ke kiri. Berbeda dengan budaya menulis masyarakat Eropa.

Seni merajut pernah mengalami masa keemasan di Eropa pada abad pertengahan. Bukan hanya alat, bahan dan peralatan merajut lainnya dikembangkan, bahkan mereka membuat benang rajutan yang berasal dari emas untuk merajut jubah bagi para pembesar istana. Dan rajutan pun menjadi icon bagi kalangan tertentu saja. Serta para perajut pada masa itu dianggap sebagai orang terhormat.

Hampir semua perajut pada masa itu berjenis kelamin laki-laki. Dan jika ada seorang pemuda yang ingin bergabung, maka dia harus magang dan melayani master perajut yang ada. Serta mengikuti ujian/tes dengan menghasilkan kreasi rajutan dengan jenis rajutan terbaru dan benang rajut khusus. Setelah lulus dari tes, barulah dia bisa menyandang gelar master perajut. Dan diperbolehkan menerima murid.

Ada peraturan khusus dalam mengajar merajut, terutama dalam hal kualitas bahan dan motif rajutan. sehingga hasil rajutan yang diperoleh saat itu memang benar-benar berkualitas. Jika ada seorang master perajut melanggar aturan, maka dia akan dikeluarkan dari organisasi perajut kuno (komunitas merajut) dan dicopot gelar masternya.

Namun, seiring perkembangan zaman dan penduduk yang semakin bertambah, bisa jadi mereka yang dikeluarkan dari organisasi/komunitas rajut tersebut menjadikan kegiatan merajut menjadi lebih familiar dan bisa dikerjakan oleh siapa pun dari semua golongan tanpa pandang gelar dengan teknik yang beragam.

Semenjak saat itulah, ilmu merajut menyebar luas ke berbagai negara dengan teknik dan karakteristis yang berbeda tiap daerah. Contoh: budaya merajut sweater masyarakat di Pulau Aran memiliki ciri khas kabel dengan pelintiran yang rumit. Sedangkan di Peru, hasil rajutannya selalu dikombinasikan dengan berbagai warna seperti motif Fair Isle dari Skandinavia. Sekilas terlihat mirip, tetapi ada perbedaan khas di antara keduanya.

Mungkin di antara kita tidak banyak yang tahu (termasuk saya) bahwa budaya merajut kuno dilakukan oleh kaum laki-laki. Karena dari kecil ketika nonton film cartoon pasti yang merajut identik dengan nenek tua berkacamata yang duduk di kursi goyang. Padahal sejarahnya jauh berbeda dari itu.

Meskipun budaya merajut sudah menyebar hampir ke seluruh negara Eropa, namun lambat laun mulai tergusur dengan adanya penemuan mesin rajut ketika terjadinya revolusi industri di Inggris. Sehingga rajutan bukan lagi menjadi ketrampilan rajutan tangan tapi produk industri massal.

Akhirnya, para perajut pun mulai tersingkir, dan kegiatan merajut hanya menjadi kegiatan rumahan yang dilakukan oleh para wanita. Namun, seiring perkembangan jaman, ketrampilan merajut merupakan salah satu ketrampilan yang wajib dimiliki oleh wanita bangsawan di Inggris. Hal ini terjadi pada masa Victoria.

Meskipun seni merajut benang mengalami pasang surut, tapi belajar merajut rumahan tetap menjadi ilmu turun-temurun dari ibu ke anaknya. Bahkan, di sebuah daerah pesisir Inggris, calon mempelai wanita harus membuatkan sweater untuk calon suaminya pada hari pernikahan. Di pesisir Inggris lainnya, para istri harus membuatkan sweater bertuliskan nama suami/nama kapalnya suami mereka.

Sedangkan di Indonesia, budaya merajut telah dibawa oleh Belanda pada saat mereka menjajah. Masyarakat pribumi, terutama wanita diajarkan cara merajut oleh noni-noni Belanda pada saat itu. Sehingga jarum rajut/knitting needle terkenal dengan sebutan breien. Begitu juga dengan jarum rajut crochet, disebut hakken. Meskipun budaya merajut tidak sepopuler merajut crochet.

Beberapa tahun belakangan ini, sepertinya merajut sedang mencapai masa keemasannya lagi. Gimana tidak? Beberapa buku merajut dan majalah tentang rajutan di luar negeri semakin banyak, bahkan merambah hingga ke dunia internet. Maka dari itu, tidak heran jika banyak designer rajutan luar negeri yang hidupnya hanya bertumpu pada rajutan. Sebagai contoh, Elizabeth Zimmerman, merupakan salah satu designer rajutan tersohor yang mengabdikan dirinya sebagai pecandu rajutan (opionated knitter).

Di Indonesia sendiri, seni rajut sudah menyebar luas. Mungkin hampir tiap daerah sudah ada komunitas rajut. Bukan hanya itu saja, kursus merajut, baik yang offline maupun online pun mulai bermunculan. Bahkan akhir-akhir ini, sandal dan sepatu rajut menjadi tren di Indonesia. Nah, dari sini anda sebenarnya bisa menjadikan merajut sebagai peluang usaha yang menjanjikan, bukan hanya sekedar hobi.

Sekian sejarah singkat tentang merajut (knitting). Semoga bermanfaat!

Bagaimana komentar Anda?